Rabu, 18 November 2015

Working Mom dan Sufor

Sudah sering saya  membaca mengenai postingan ASI, SUFOR, Workingmom, Housewife,serta berbagai macam pro kontranya.
Miris melihatnya, karena banyak yang membanggakan dirinya terlalu berlebihan hingga kebanggaan tersebut melukai orang lain yang dinggap tidak semampu dirinya. Jujur saja, terkadang saya sebal dengan debat mengenai ASI vs Sufor atau Working mom vs Full mom. Saya adalah working mom dan anak saya minum sufor.  Lengkap sudah status saya untuk menjadi hujatan bukan? Hehehe.

Saya rasa sebenarnya setiap pilihan pasti ada plus minus nya tapi tidak perlu lah menghujat pilihan yang lain hanya karena orang-orang seperti saya tidak mampu menjadi full mom yang memberi full ASI.

Contoh yang sering saya lihat itu seperti ASI vs Sufor. Di mana-mana semua orang juga tahu kalau ASI lebih baik dari sufor, bahasa kasar yang biasa disebut orang adalah susu manusia diberikan untuk anak manusia, bukannya susu sapi diberikan ke anak manusia. Jadinya anak-anak yang minum sufor dapatlah julukan “anak sapi” seperti anak saya padahal susah payah kita melahirkannya dengan proses yang  tidak mudah dan taruhan nyawa. Pernah saya melihat meme untuk menyindir anak-anak sufor dengan gambar balita yang langsung menyusu pada seekor sapi. Masyaallah, jijik saya melihatnya. Bagi saya keterlaluan. Padahal artikelnya judulnya bagus yaitu penelitian ilmiah yang membuktikan ASI lebih baik dari sufor. Ah, lagi-lagi judge mengenai jeleknya sufor ya. Kalau saya justru bersyukur sekali, ALLAH Yang Maha Besar memberi sebuah solusi, sebuah alternatif bila sang ibu tidak mampu memberi ASI bagi anaknya dengan susu sapi yang bisa digunakan untuk memenuhi gizi anak daripada anak saya kurang gizi. Lagipula ibu mana yang tidak mau memberi yang terbaik bagi anaknya. Anak itu kan anugerah, rejeki berharga dari ALLAH. 

Semua ibu bila mampu memberi ASI tidak akan pelit memberi ASI pada anaknya. Bagi saya yang tidak mampu, walaupun hanya susu KW, melihat anak saya sehat, ceria, aktif itu sudah membuat saya tenang. Sufor juga tidak murah, pengorbanan yang saya keluarkan bukan hanya sekedar batin menahan ngilu karena tidak bisa memberi ASI yang terbaik, tapi saya juga mengeluarkan duit yang pastinya lebih banyak daripada ibu ASI. See, bukan ASI saja yang eksklusif, sufor harganya juga eksklusif.    

Ada lagi teman saya yang memilih untuk jadi full mom pernah di bully oleh orang lain yang kebetulan jadi working mom. Meletuslah perang status di social media mengenai perbandingan working mom dan full mom beserta aneka meme sindiran. Haduh, saling menghormati benar-benar sulit ya. Secara pribadi, saya justru lebih suka sharing masalah anak dengan teman-teman yang jadi full mom. Istilahnya bertukar ilmu dan pengalaman. Tetapi mengapa masih saja ada yang bilang working mom kurang mempunyai waktu untuk anak. Kurang memperhatikan anak. Padahal walaupun bekerja, yang namanya anak ya tetap diperhatikan lah, hanya saja secara fisik kita tidak ada di dekatnya. Ada lagi statement working mom itu lebih keren bisa menghasilkan uang sendiri untuk kesenangan pribadi. Working mom juga elegan dan tidak ber-daster seperti full mom. Kemudian dibalas dengan pernyataan lebih baik full mom yang sepanjang hari bersama keluarga, ibu yang selalu bermain bersama anaknya dan jurus mematikan yang sering saya temui “tidak melewatkan masa-masa golden time bersama anak”.

Saya eneg melihat perdebatan tersebut, padahal kalau dijalani semua sama saja. Saya tidak bangga menjadi working mom karena bagi saya ini bukan soal kebanggaan tetapi lebih ke rutinitas yang sudah saya jalani. Uang yang saya hasilkan pun ujung-ujungnya mengalir untuk keluarga juga, namanya sudah berkeluarga bukan bujang. Sama-sama bekerja hanya berbeda tempat dan orang, saat di kantor saya bekerja untuk bos, saat di rumah saya kembali bekerja untuk suami dan anak. Hanya se-simple itu tapi yang berdebat tidak habis-habis. Bagi saya menjadi ibu pekerja atau di rumah itu adalah pilihan anda. Dan sepatutnya sebagai orang yang beradab, kita menghormati keputusan tersebut tanpa harus membandingkan plus minus yang mengarah pada debat, penghinaan dan merasa bahwa “yang satu lebih baik dari yang lain”.Karena sekalipun wanita memilih untuk bekerja, pasti akan kembali lagi ke kodrat utamanya yaitu menjadi istri dan ibu.

Kebetulan saya termasuk working mom long distance yang bekerja Senin-Jumat hanya di rumah Sabtu-Minggu. Otomatis hanya kumpul keluarga hari Sabtu-Minggu saja. Kalau ditanya apa betah tidak bertemu anak selama 5 hari, ya jawabnya pasti tidak betah. Setiap saat selalu kepikiran apa yang dilakukan anak di rumah, bagaimana makanannya, bagaimana perkembangannya, dan yang paling penting bagaimana kesehatannya. Setiap orang pasti punya alasan kuat dibalik setiap tindakan. Saya pun begitu. Saya memilih untuk mengorbankan masa-masa golden time anak saya demi sesuatu yang jauh lebih penting bagi masa depan keluarga kami.  Pengorbanan saya ini cukup mahal, cukup miris, jadi tidak perlu ditambahi dengan artikel, status, sindiran atau saran mengenai plus minusnya menjadi working mom. Share berulang kali di halaman media social hanya untuk pembelaan diri masing-masing, sebagai perbandingan sepihak mengenai profesi mana yang lebih baik. Sungguh melelahkan sekali.  

Bukan berarti menjadi working mom kurang memperhatikan keluarga, bisa saja yang full mom terkadang hanya peduli dengan dirinya sendiri, shopping, arisan, nge-mall karena memiliki waktu luang yang panjang hingga rumah tak terurus. Bukan berarti menjadi working mom berlimpah materi, bisa saja full mom yang di rumah lebih berlimpah materi hingga tidak perlu bersusah payah menjadi working mom. Semua kemungkinan bisa saja terjadi. Jadi tidak usah membandingkan satu dengan yang lain, bersusah payah debat sana-sini demi mendapatkan penilaian bahwa “inilah profesi terbaik bagi wanita”.

Setiap ibu pasti selalu memberikan yang terbaik bagi anaknya, dan setiap ibu memiliki caranya sendiri untuk membahagiakan anaknya bukan dengan cara orang lain, karena orang lain hanya bisa melihat, bukan mengalami dan merasakan, hanya kita yang tahu dengan benar apa yang terbaik bagi anak kita dengan segala kondisi dan keterbatasan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar